Pak, Putri Kecilmu Merindu

Sunday, June 15, 2014
Teruntuk Bapak yang tak tertandingi



Mengapa engkau selalu melarangku untuk menyeka peluhmu barang sebentar saja, Pak? Diam-diam aku kerap membuatkan teh hangat sebelum jam pulang kerja Bapak tiba. Bapak mau meminumnya, lalu berkata “Sudah, Nduk (bahasa Jawa, panggilan untuk anak perempuan). Besok-besok biar Ibu saja yang membuatkan teh. Bapak tahu kamu capek. Belajar saja buat besok.”

Bapak, aku tak pernah berhenti terpesona olehmu. Bapak selalu menginginkan dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hingga terkadang aku cemburu pada Ibu. Betapa beruntungnya Ibu mendapatkan laki-laki super seperti Bapak. Mereka bak bidadari surga yang diizinkan bertemu dan menikmati nikmatnya dunia bersama.

Aku tahu engkau begitu lelah. Hampir setiap hari mengantarkanku ke sekolah, dengan motor bebek tuanya. Bukan tak mau anaknya untuk mandiri, hanya saja terlalu khawatir bila putri kecilnya berjalan sendiri. Tak ada balasan yang dapat kulakukan selain menuruti perintahmu, Pak. Kini, saat ribuan mil memisahkan raga kita, aku selalu merindukan kala engkau memboncengiku di motor bebek tuamu, Pak.

Aku tahu betul engkau begitu lelah. Tapi Bapak masih saja membiarkan dirinya terjaga. Menemaniku hingga larut malam, saat aku belajar atau menyelesaikan tugas sekolah. 

Bapak tak pernah bosan mengingatkanku untuk berolahraga, meski hanya lari di tempat 10 menit. Bapak hanya khawatir bila ketika aku dewasa dan akan menjadi seorang ibu, tubuhku terlalu lemah untuk mempunyai anak. Aku berusaha sebisa mungkin untuk melakukan itu.

Kini hampir tiap malam aku tak bisa menahan rindu yang membuncah. Aku menuruti perintahmu, Pak. Melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri, meski berarti harus terpisah kota.

Bapak, sungguh, aku sangat rindu. Pak, betapa sesungguhnya aku terhujam rindu. Mendengar suara beratmu menjadi penawarnya untuk saat ini. Kan kubuktikan, Pak, kelak aku menjadi putrimu yang akan menggapai mimpi-mimpinya. Really, never ending love for you, Pak.



Putrimu yang selalu merindu.

No comments:

Powered by Blogger.